Minggu, 07 Maret 2010

99 NAMA ALLAH SWT ASMA'UL HUSNA

Di dalam kitab suci Al-Qur'an Allah SWT disebut juga dengan nama-nama sebutan yang berjumlah 99 nama yang masing-masing memiliki arti definisi / pengertian yang bersifat baik, agung dan bagus. Secara ringkas dan sederhana Asmaul Husna adalah sembilanpuluhsembilan nama baik Allah SWT.

Firman Allah SWT dalam surat Al-Araf ayat 180 :
"Allah mempunyai asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan".
Berikut ini adalah 99 nama Allah SWT beserta artinya :1. Ar-Rahman (Ar Rahman) Artinya Yang Maha Pemurah2. Ar-Rahim (Ar Rahim) Artinya Yang Maha Mengasihi3. Al-Malik (Al Malik) Artinya Yang Maha Menguasai / Maharaja Teragung4. Al-Quddus (Al Quddus) Artinya Yang Maha Suci5. Al-Salam (Al Salam) Artinya Yang Maha Selamat Sejahtera6. Al-Mu'min (Al Mukmin) Artinya Yang Maha Melimpahkan Keamanan7. Al-Muhaimin (Al Muhaimin) Artinya Yang Maha Pengawal serta Pengawas8. Al-Aziz (Al Aziz) Artinya Yang Maha Berkuasa9. Al-Jabbar (Al Jabbar) Artinya Yang Maha Kuat Yang Menundukkan Segalanya10. Al-Mutakabbir (Al Mutakabbir) Artinya Yang Melengkapi Segala kebesaranNya11. Al-Khaliq (Al Khaliq) Artinya Yang Maha Pencipta12. Al-Bari (Al Bari) Artinya Yang Maha Menjadikan13. Al-Musawwir (Al Musawwir) Artinya Yang Maha Pembentuk14. Al-Ghaffar (Al Ghaffar) Artinya Yang Maha Pengampun15. Al-Qahhar (Al Qahhar) Artinya Yang Maha Perkasa16. Al-Wahhab (Al Wahhab) Artinya Yang Maha Penganugerah17. Al-Razzaq (Al Razzaq) Artinya Yang Maha Pemberi Rezeki18. Al-Fattah (Al Fattah) Artinya Yang Maha Pembuka19. Al-'Alim (Al Alim) Artinya Yang Maha Mengetahui20. Al-Qabidh (Al Qabidh) Artinya Yang Maha Pengekang21. Al-Basit (Al Basit) Artinya Yang Maha Melimpah Nikmat22. Al-Khafidh (Al Khafidh) Artinya Yang Maha Perendah / Pengurang23. Ar-Rafi' (Ar Rafik) Artinya Yang Maha Peninggi24. Al-Mu'izz (Al Mu'izz) Artinya Yang Maha Menghormati / Memuliakan25. Al-Muzill (Al Muzill) Artinya Yang Maha Menghina26. As-Sami' (As Sami) Artinya Yang Maha Mendengar27. Al-Basir (Al Basir) Artinya Yang Maha Melihat28. Al-Hakam (Al Hakam) Artinya Yang Maha Mengadili29. Al-'Adl (Al Adil) Artinya Yang Maha Adil30. Al-Latif (Al Latif) Artinya Yang Maha Lembut serta Halus31. Al-Khabir (Al Khabir) Artinya Yang Maha Mengetahui32. Al-Halim (Al Halim) Artinya Yang Maha Penyabar33. Al-'Azim (Al Azim) Artinya Yang Maha Agung34. Al-Ghafur (Al Ghafur) Artinya Yang Maha Pengampun35. Asy-Syakur (Asy Syakur) Artinya Yang Maha Bersyukur36. Al-'Aliy (Al Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia37. Al-Kabir (Al Kabir) Artinya Yang Maha Besar38. Al-Hafiz (Al Hafiz) Artinya Yang Maha Memelihara39. Al-Muqit (Al Muqit) Artinya Yang Maha Menjaga40. Al-Hasib (Al Hasib) Artinya Yang Maha Penghitung41. Al-Jalil (Al Jalil) Artinya Yang Maha Besar serta Mulia42. Al-Karim (Al Karim) Artinya Yang Maha Pemurah43. Ar-Raqib (Ar Raqib) Artinya Yang Maha Waspada44. Al-Mujib (Al Mujib) Artinya Yang Maha Pengkabul45. Al-Wasi' (Al Wasik) Artinya Yang Maha Luas46. Al-Hakim (Al Hakim) Artinya Yang Maha Bijaksana47. Al-Wadud (Al Wadud) Artinya Yang Maha Penyayang48. Al-Majid (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia49. Al-Ba'ith (Al Baith) Artinya Yang Maha Membangkitkan Semula50. Asy-Syahid (Asy Syahid) Artinya Yang Maha Menyaksikan51. Al-Haqq (Al Haqq) Artinya Yang Maha Benar52. Al-Wakil (Al Wakil) Artinya Yang Maha Pentadbir53. Al-Qawiy (Al Qawiy) Artinya Yang Maha Kuat54. Al-Matin (Al Matin) Artinya Yang Maha Teguh55. Al-Waliy (Al Waliy) Artinya Yang Maha Melindungi56. Al-Hamid (Al Hamid) Artinya Yang Maha Terpuji57. Al-Muhsi (Al Muhsi) Artinya Yang Maha Penghitung58. Al-Mubdi (Al Mubdi) Artinya Yang Maha Pencipta dari Asal59. Al-Mu'id (Al Muid) Artinya Yang Maha Mengembali dan Memulihkan60. Al-Muhyi (Al Muhyi) Artinya Yang Maha Menghidupkan61. Al-Mumit (Al Mumit) Artinya Yang Mematikan62. Al-Hayy (Al Hayy) Artinya Yang Senantiasa Hidup63. Al-Qayyum (Al Qayyum) Artinya Yang Hidup serta Berdiri Sendiri64. Al-Wajid (Al Wajid) Artinya Yang Maha Penemu65. Al-Majid (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia66. Al-Wahid (Al Wahid) Artinya Yang Maha Esa67. Al-Ahad (Al Ahad) Artinya Yang Tunggal68. As-Samad (As Samad) Artinya Yang Menjadi Tumpuan69. Al-Qadir (Al Qadir) Artinya Yang Maha Berupaya70. Al-Muqtadir (Al Muqtadir) Artinya Yang Maha Berkuasa71. Al-Muqaddim (Al Muqaddim) Artinya Yang Maha Menyegera72. Al-Mu'akhkhir (Al Muakhir) Artinya Yang Maha Penangguh73. Al-Awwal (Al Awwal) Artinya Yang Pertama74. Al-Akhir (Al Akhir) Artinya Yang Akhir75. Az-Zahir (Az Zahir) Artinya Yang Zahir76. Al-Batin (Al Batin) Artinya Yang Batin77. Al-Wali (Al Wali) Artinya Yang Wali / Yang Memerintah78. Al-Muta'ali (Al Muta Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia79. Al-Barr (Al Barr) Artinya Yang banyak membuat kebajikan80. At-Tawwab (At Tawwab) Artinya Yang Menerima Taubat81. Al-Muntaqim (Al Muntaqim) Artinya Yang Menghukum Yang Bersalah82. Al-'Afuw (Al Afuw) Artinya Yang Maha Pengampun83. Ar-Ra'uf (Ar Rauf) Artinya Yang Maha Pengasih serta Penyayang84. Malik-ul-Mulk (Malikul Mulk) Artinya Pemilik Kedaulatan Yang Kekal85. Dzul-Jalal-Wal-Ikram (Dzul Jalal Wal Ikram) Artinya Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan86. Al-Muqsit (Al Muqsit) Artinya Yang Maha Saksama87. Al-Jami' (Al Jami) Artinya Yang Maha Pengumpul88. Al-Ghaniy (Al Ghaniy) Artinya Yang Maha Kaya Dan Lengkap89. Al-Mughni (Al Mughni) Artinya Yang Maha Mengkayakan dan Memakmurkan90. Al-Mani' (Al Mani) Artinya Yang Maha Pencegah91. Al-Darr (Al Darr) Artinya Yang Mendatangkan Mudharat92. Al-Nafi' (Al Nafi) Artinya Yang Memberi Manfaat93. Al-Nur (Al Nur) Artinya Cahaya94. Al-Hadi (Al Hadi) Artinya Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk95. Al-Badi' (Al Badi) Artinya Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya96. Al-Baqi (Al Baqi) Artinya Yang Maha Kekal97. Al-Warith (Al Warith) Artinya Yang Maha Mewarisi98. Ar-Rasyid (Ar Rasyid) Artinya Yang Memimpin Kepada Kebenaran99. As-Sabur (As Sabur) Artinya Yang Maha Penyabar / Sabar
AMALAN ASMA'UL HUSNAH UNTUK MEMBUKA PINTU REZEKI
Allah memiliki 99 nama yang indah atau lebih terkenal dengan sebutan Al-Asma-ul-Husna. Nama-nama tersebut merupakan cerminan dari perilaku Allah terhadap umatnya. Karena itu, jika nama-nama tersebut kita sebut sebagai suatu permohonan, niscaya akan mempunyai pengaruh yang sangat besar.
Anjuran untuk berdoa menggunakan Asmaul Husna telah tercermin dalam firman Allah:“Hanya milik Allah Asma-Ul Husna, maka berdoalah kepadaNya dengan menyebut Asma-Ul Husna, dan tinggalkan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat Al-A’rof Ayat 180).
Berikut ini saya sertakan beberapa amalan Asma-Ul Husna yang berguna untuk membuka pintu rejeki kita.
AL WAHHAABUArtinya:Dzat yang maha memberi, yaitu memberikan segalanya terhadap kebutuhan makhlukNya, tanpa diminta sebelumnya Allah sudah menyediakannya.Keutamaannya:- Bisa menjauhkan dari kesempitan rejeki- Bisa mendatangkan kemudahan.Cara mengamalkan:Barang siapa membaca “YAA WAHHAAB” sebanyak 23 kali berturut-turut sebagai amalan rutin setiap selesai sholat fardlu atau setelah sholat Hajat 2 raka’at sebanyak 800 kali, maka baginya akan dijauhkan dari kesempitan rejeki dan diberikan kemudahan dalam segala urusannya.
AR ROZZAAQUArtinya:Dzat yang maha memberi rejeki, yaitu memberi rejeki untuk semua makhlukNya untuk kebutuhan hidupnya. Dan Dia pula yang menentukan banyak dan sedikitnya rejeki yang akan diberikan pada hamba-hambaNya.Keutamaannya:- Bisa memudahkan jalan rejeki- Bisa memberikan keberuntunganCara mengamalkan:Barang siapa membaca “YAA ROZZAAQ” sebanyak-banyaknya setiap hari seteah sholat fardlu, maka ia akan dijauhkan dari kesempitan rejeki dan usahanya selalu mendapat keuntungan yang berlimpah-limpah.
AL BAASITHUArtinya:Dzat yang maha melapangkan rejeki, yaitu memberikan kelapangan rejeki kepada hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, sehingga banyak orang bodoh dapat hidup kaya-raya, sebaliknya orang yang cerdik, pandai hidupnya miskin. Nah, demikian itulah yang dinamakan “sudah menjadi suratan takdirNya”.Keutamaan:- Bisa memajukan usaha dalam perniagaan- Bisa memberikan keuntunganCara mengamalkan:Barang siapa membaca “YAA BAASITH” sebanyak-banyaknya sebagai amalan yang rutin setelah sholat fardlu atau setelah sholat hajat membaca 300 kali, maka akan dijamin usahanya dalam bidang perniagaan mendapat kemajuan yang pesat dan selalu memperoleh keuntungan.
AL JALIILUArtnya:Dzat yang maha sempurna, yaitu Dia tidak mempunyai cacat dan kekurangan apapun sebagaimana yang dialami makhukNya. Jadi kesempurnaan Allah itu meliputi segala-galanya.Keutamaan:- Bisa mempercepat kemajuan perdagangan- Bisa menjauhkan dari kesulitan hidupCara mengamalkan:Barang siapa membaca “YAA JALIIL” sebanyak 99 kali, sebagai amalan rutin setiap hari setelah sholat tahajjud, maka bila dia seorang pedagang akan cepat maju, bila seorang pegawai akan segera naik pangkat dan bila seorang petani akan panen yang melimpah seta dijauhkan dari kesulitan hidup.
AL QOYYUUMUArtinya:Dzat yang maha berdiri sendiri, yaitu tidak berhajat kepada siapapun juga didalam mengatur dan mengurus makhlukNya.Keutamaan:- Bisa melancarkan jelannya rejeki- Bisa dicintai dan disegani semua orangCara mengamalkan:Barang siapa membaca “YAA QOYYUUM” sebanyak 80 kali sebagai amalan rutin setiap hari setelah sholat fardlu, maka baginya akan diberi jalan kelancaran rejeki dan juga dicintai serta disegani oleh banyak orang.
AL AAKHIRUArtinya:Dzat yang maha akhir, yaitu Dia tidak ada masa berakhirnya sebagaimana yang dialami hamba-hambaNya.keutamaanya:- Bisa memudahkan rejeki- Bisa menjauhkan dari segala macam kesulitan hidupCara mengamalkan:Barang siapa membaca “YAA AAKHIR” sebanyak 200 kali sebagai amalan rutin setiap hari setelah sholat tahajjud, maka akan dimudahkan jalan rejekinya serta bisa menjauhkan dari segala macam kesulitan hidup.
AL QHONIYYUArtinya:Dzat yang maha kaya, yaitu Dia yang sangat kaya raya di atas segala-galanya, sehingga kekayaanNya dapat mencukupi kebutuhan hamba-hambaNya.Keutamaannya:- Bisa memberikan kecukupan dalam kehidupan- Dapat anugerah keberkahan rejeki yang didapatCara mengamalkan:Barang siapa membaca “YAA GHONIYYU” sebanyak 400 kali sebagai amalan rutin setiap hari setelah sholat fardlu, maka baginya akan diberi kecukupan didalam kehidupannya dan setiap rejeki yang diperoleh akan membawa keberkahan.
AL MUGHNIYArtinya:Dzat yang maha memberi kekayaan, yaitu semua kekayaan yang dimiliki oleh manusia itu adalah merupakan pemberian dari Allah SWT, tetapi kebayakan manusianya sendiri yang tidak menyadari, sehingga ia menjadi pelit ketika dianjurkan untuk membelanjakan hartanya di jalan Allah.Keutamaannya:- Bisa memudahkan apa yang dicita-citakan- Bisa memperlancar jalannya rejekiCara mengamalkan:Barang siapa membaca “YAA MUGHNIY” sebanyak 200 kali sebagai amalan yang rutin setiap hari setelah sholat fardlu, atau dibaca pada tengah malam setelah sholat Hajat, maka jalan rejekinya akan diberi kelancaran dan apa yang menjadi cita-citanya akan mudah terlaksana.
Kesungguhan dalam mengamalkan Asma-Ul Husna merupakan syarat yang mutlak diterimanya suatu permohonan, selain itu dibutuhkan juga keyakinan dan kesabaran yang penuh. Waktu terbaik untuk mengamalkan Asma-Ul Husna adalah tengah malam. Saat sebagian besar manusia telah tidur terlelap, merupakan waktu terbaik dan mustajab untuk memohon kepada Allah SWT. Semoga bermanfaat.

MENGHITUNG DUNIA, MENGHITUNG HARI ( DETIK DEMI DETIK...)

Banyak orang tak menyadari bahwa hidupnya akan berujung di sebuah titik, tanpa koma. Titik kematian. Titik kepastian yang telah Allah gariskan. Ketidak sadaran ini berasal karena dia menyangka bahwa dunia akan toleran membiarkan hidup berlama-lama mengumbar keinginan nafsunya kemudian baru menyadarinya bahwa titik kematian itu sudah tiba. Kematian adalah kepastian yang menjadi misteri yang tidak ada satu orangpun mampu menebak kapan datangnya. Namun dia pasti. Dan sekali dia datang maka dia akan mengakhir semua angan dan cita yang kita bangun. Dia adalah penghancur kelezatan, dia adalah penakluk keinginan, dia adalah peremuk semua angan.

Lalai akan kepastian kematian bermula dari penghambaan kita pada dunia. Dia berawal karena kita senantiasa menghamba pada dunia. Dunia telah mengaburkan pandangan mata batin kita untuk melihat indahnya akhirat yang berkilau nikmat. Mata hati dan batin kitamenjadi gelap karena dia menghiasinya dengan pernih dunia. Mata batin kita menjadi gulita karena kita telah menutupnya dengan hiasan dunia.

Dunia yang seharusnya kita jadikan sebagai hamba, telah berbalik menjadi tuan. Dunia yang seharusnya berada di bawah telapak kaki kita jadikan di ubun-ubun kita. Dunia yang seharusnya kita dengan gampang menginjak-injaknya, telah dengan gampang menginjak-injak kepala kita. Dunia yang seharusnya tidak pernah menempel di dalam sanubari kita, malah menjadi raja yang mengatur semua organ tubuh kita.

Hari-hari kita berselimutkan dunia. Ada gumpalan kebanggaan dalam diri kita akan harta yang kita miliki. Jabatan yang kita duduki, posisi yang kita nikmati, kekuasaan yang kita kangkangi. Yang kemudian menjadikan kita larut, larut dan terus larut dalam kelalaian yang tiada bertepi. Yang sengaja Allah tidak hentikan kelalaian itu sehinga kita telah pula menjadikan kita lupa akan Allah yang Mahakuasa


Kita lupa bahwa dunia ini Allah hamparkan untuk kita atur menuju Allah. Dan tidak menjadikan dunia mengalihkan perhatian batin kita dari Allah. Allah serahkan dunia ini agar kita mampu mengelolanya sebagai bekal untuk akhirat, namun kita sering kali lupa dan kita terjebak di jala-jalanya yang banyak menggoda dan melalaikan kita.

Sungguh celakalah jemari-jemari yang bergerak hanya menghitung dunia di setiap detiknya. Yang menghitung-hitungnya tiada henti dan ttitik, sampai kematian menghentikannya. Dia mengira bahwa harta benda yang berlimpah itu dapatk mengekalkan nafasnya, dapat membendung gelombang kematian mana kala dia telah tiba saatnya. Dia mengira bahwa hartanya tidak akan menggoyahkan posisinya, mengadikan hasratnya. Dunia telah melipui hatinya dan tidak memberikan pintu masuk pada akhirat sehingga dia berada dalam kealfaan yang total kepada Allah.

Para penghamba dunia akan senantiasa bersimpuh, ruku' dan sujud di depan kemegahannya. Nafsu menjadi Tuhannya. Dia menjadi hamba setianya.

أفرأيت من اتخذ إلهه هواه وأضله الله على علم وختم على سمعه وقلبه وجعل على بصره غشاوة فمن يهديه من بعد الله أفلا تذكرون

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al-Jatsiyah : 23).

Allah biarkan mereka sesat di tumpukan ilmunya yang tidak lagi memberi mamfaat. Ilmunya yang tidak lagi menjadi penerang karena dia telah memadamkannya dengan kecintaan yang over-dosis pada dunia. Kecintaan yang mematikan hatinya yang membunuh semangat cintanya kepada Yang Makak Pencinta.



Mereka lupa Allah, maka Allah jadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Lupa asal dan akhirnya. Lupa darimana dia bermula dan kemana dia akan berujung. Mereka lupa diri mereka sendiri.

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik (Al-Hasyr : 19).

Wahai para pencinta dunia. Dunia itu terbatas umurnya. Dunia itu sementara kenikmatannya. Kalian boleh menikmatinya namun sebatas yang dibutuhkan untuk kepentingan akhirat kalian. Jangan berlebihan dan melampaui batas. Sebab jika kalian menikmati dunia dengan penuh ketamakan maka tak ubahnya kalian laksana binatang bahkan lebih buruk dari mereka. Karena kalian memiliki akal dan hati yang bisa lebih jernih melihat hakikat sesuatu namun kalian tidak lagi mampu.

Jangan biarkan diri kalian menyediakan sarana-sarana yang menjadikkan kalian tersesat dengan sarana-sarana yang kalian bangun dan himpun dalam diri kalian. Jangan biarkan lentera cintampada akhirat suram dan semakin suram karena kalian berlapang dada untuk bersimpuh ria di hadapan dunia yang terus menggoda kalian. Jangan biarkan diri kalian terperangkap di jaring-jaring dunia yang ditebar syetan di berbagai sudut-sudut nafsumu.

Jangan biarkan syetan-syetan itu menjadi tuan atau yang memporak porandakan rancang bangun keimanan kalian. Kalian tahu bahwa syetan adalah musuh. Maka jadikanlah dia sebagai musuh abadimu. Namun jika nafsu telah berkuasa atas kalian maka kalian akan menjadi budaknya. Sebab nafsu ammarah kalian adalah tentara syetan yang di tanam dalam diri kalian.

Biarkan dunia itu kalian posisikan pada posisinya yang benar. Menjadi hamba-hamba kalian, menjadi abdi-abdi kalian, menjadi pelayan-pelayan kalian. Dengan demikian kalian akan mudah menjadi hamba Allah, Tuhan yang kalian. Tuhan semesta alam.

Budak dunia akan kehilangan akhirat dan pemburu akhirat akan membuat dunia terbirit-birit mengejarnya di segala kesempatan.

Selasa, 02 Maret 2010

EMPAT HAL MENYEBABKAN SU'UL KHATIMAH

Empat Hal Menyebabkan Su’ul Khatimah

Rabu, 23/12/2009 21:15 WIB | email | print | share

Dalam kitab Ensiklopedia Kiamat (aslinya: al-Yaum al-Akhir:al-Qiyamah ash-Shughra wa ‘Alamat al-Qiyamah al-Kubra), Dr Umar Sulaiman al-Asyqar menulis pasal khusus berjudul “Hal-hal Yang Menyebabkan Su’ul Khatimah (akhir kehidupan yang buruk)”. Di dalamnya beliau menyebutkan ada empat perkara yang dapat menyebabkan seseorang mengakhiri hidupnya dalam keadaan buruk sehingga menghantarkannya ke Neraka di kehidupan abadi negeri akhirat kelak. Namun sebelum kita uraikan keempat hal tersebut alangkah baiknya kita perhatikan hadits di bawah ini yang memuat salah satu rukun iman yang fundamental, yaitu iman akan taqdir Allah, baik itu taqdir yang terasa menyenangkan maupun yang terasa pahit.

ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ

بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ

وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا

وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا

إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Dari Abu Abdirrohman, Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu’anhu, dia berkata: ”Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada kami dan beliau adalah orang yang selalu benar dan dibenarkan: “…Kemudian diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh kepadanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya. Maka demi Alloh yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada diantara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapka atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.” (HR. Muslim)

Seorang yang beriman kepada taqdir yang ditetapkan oleh Allah pastilah sangat khawatir bilamana dirinya termasuk ke dalam golongan yang disabdakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di atas yaitu “… sesungguhnya ada diantara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya.” Sungguh merugilah orang yang ditaqdirkan Allah seperti itu. Namun tentunya melalui pelajaran ini Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bermaksud untuk menjelaskan adanya orang yang amalan baiknya selama ini sekedar yang tampak pada manusia. Sedangkan bisa jadi pada hakikatnya tersimpan dalam hatinya kejahatan yang kemudian muncul secara lahir pada akhir hayatnya.

Sebaliknya golongan orang yang digambarkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebagai ”dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.” Tentunya ini adalah orang yang sangat beruntung dan disayang Allah ta’aala. Boleh jadi manusia memberi penilaian buruk karena perilakunya selama ini, namun sesungguhnya ia memiliki suatu kebaikan tertentu yang tersembunyi dari penglihatan orang lain sedangkan Allah memandang kebaikannya itu layak menjauhkan dirinya dari neraka dan menghantarkannya ke surga. Wallahu a’lam.

Yang pasti, beriman kepada taqdir akan menghasilkan rasa takut yang mendalam akan nasib akhir hidup dan menumbuhkan semangat yang tinggi untuk beramal dan istiqomah dalam ketaatan demi mengharap husnul khatimah. Beriman kepada taqdir bukanlah alasan untuk bermaksiat dan bermalas-malasan. Beriman kepada taqdir justru semakin membuat seseorang berusaha keras berbuat sebanyak mungkin ’amal sholeh dan ’amal ibadah sekaligus menjauhi segala bentuk kemungkaran dan kemaksiatan yang berpotensi menyebabkan terjadinya su’ul khatimah.

Shiddiq Hasan Khan mengatakan bahwa su’ul khatimah memiliki sebab-sebab yang harus diwaspadai oleh seorang mukmin. Pertama, kerusakan dalam aqidah, walau disertai zuhud dan kesholehan. Jika ia memiliki kerusakan dalam aqidah dan ia meyakininya sambil tidak menganggap itu salah, terkadang kekeliruan aqidahnya itu tersingkap pada saat sakratul maut. Bila ia wafat dalam keadaan ini sebelum ia menyadari dan kembali ke iman yang benar, maka ia mendapatkan su’ul khatimah dan wafat dalam keadaan tidak beriman. Setiap orang yang beraqidah secara keliru berada dalam bahaya besar dan zuhud serta kesholehannya akan sia-sia. Yang berguna adalah aqidah yang benar yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul. Mereka terancam oleh ayat Allah berikut:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ

فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

”Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS Al-Kahfi ayat 103-104)

Kedua, banyak melakukan maksiat. Orang yang sering bermaksiat akan didominasi oleh memori tersebut saat kematian menjelang. Sebaliknya bila seseorang seumur hidupnya banyak melakukan ketaatan, maka memori tersebutlah yang menemaninya saat sakratul maut. Orang yang banyak dosanya sehingga melebihi ketatannya maka ini sangat berbahaya baginya. Dominasi maksiat akan terpateri di dalam hatinya dan membuatnya cenderung dan terikat pada maksiat, dan pada gilirannya menyebabkan su’ul khatimah. Adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Kaba’ir mengutip Mujahid: Tidaklah seseorang mati kecuali ditampilkan kepadanya orang-orang yang biasa ia gauli. Seorang lelaki yang suka main catur sekarat, lalu dikatakan kepadanya: ”Ucapkanlah La ilaha illa Allah.” Ia menjawab: ”Skak!” kemudian ia mati. Jadi, yang mendominasi lidahnya adalah kebiasaan permainan dalam hidupnya. Sebagai ganti kalimat Tauhid, ia mengatakan skak.

Ketiga, tidak istiqomah. Sungguh, seorang yang istiqomah pada awalnya, lalu berubah dan menyimpang dari awalnya bisa menjadi penyebab ia mendapat su’ul khatimah, seperti iblis yang pada mulanya merupakan pemimpin dan guru malaikat serta malaikat yang paling gigih beribadah, tapi kemudian tatakala ia diperintah untuk sujud kepada Adam, ia membangkang dan menyombongkan diri, sehingga ia masuk golongan kafir. Demikian pula dengan ulama Bani Israil Bal’am yang digambarkan dalam ayat berikut:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ

فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ

وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ

ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ

”Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.” (QS Al-A’raaf ayat 175-177)

Keempat, iman yang lemah. Hal ini dapat melemahkan cinta kepada Allah dan menguatkan cinta dunia dalam hatinya. Bahkan lemahnya iman dapat mendominasi dirinya sehingga tidak tersisa dalam hatinya tempat untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit bisikan jiwa, sehingga pengaruhnya tidak tampak dalam melawan jiwa dan menahan maksiat serta menganjurkan berbuat baik. Akibatnya ia terperosok ke dalam lembah nafsu syahwat dan perbuatan maksiat, sehingga noda hitam dosa menumpukdi dalam hati dan akhirnya memadamkan cahaya iman yang lemah dalam hati. Dan ketika sakratul maut tiba, cinta Allah semakin melemah manakala ia melihat ia akan berpisah dengan dunia yang dicintainya. Kecintaannya pada dunia sangat kuat, sehingga ia tidak rela meninggalkannya dan tak kuasa berpisah dengannya. Pada saat yang sama timbul rasa khawatir dalam dirinya bahwa Allah murka dan tidak mencintainya. Cinta Allah yang sudah lemah itu berbalik menjadi benci. Akhirnya bila ia mati dalam kondisi iman seperti ini, maka ia mendapat su’ul khatimah dan sengsara selamanya.

Ya Allah, kami memohon kepadaMu husnul khatimah dan berlindung kepadaMu dari su’ul khatimah. Amin ya Rabb,-

Jumat, 26 Februari 2010

PACARAN MENURUT HUKUM ISLAM


Istilah pacaran tidak bisa lepas dari remaja, karena salah satu ciri

remaja yang menonjol adalah rasa senang kepada lawan jenis disertai

keinginan untuk memiliki. Pada masa ini, seorang remaja biasanya

mulai "naksir" lawan jenisnya. Lalu ia berupaya melakukan pendekatan

untuk mendapatkan kesempatan mengungkapkan isi hatinya. Setelah

pendekatannya berhasil dan gayung bersambut, lalu keduanya mulai

berpacaran.

Pacaran dapat diartikan bermacam-macam, tetapi intinya adalah

jalinan cinta antara seorang remaja dengan lawan jenisnya. Praktik

pacaran juga bermacam-macam, ada yang sekedar berkirim surat,

telepon, menjemput, mengantar atau menemani pergi ke suatu tempat,

apel, sampai ada yang layaknya pasangan suami istri.

Di kalangan remaja sekarang ini, pacaran menjadi identitas yang

sangat dibanggakan. Biasanya seorang remaja akan bangga dan percaya

diri jika sudah memiliki pacar. Sebaliknya remaja yang belum

memiliki pacar dianggap kurang gaul. Karena itu, mencari pacar di

kalangan remaja tidak saja menjadi kebutuhan biologis tetapi juga

menjadi kebutuhan sosiologis. Maka tidak heran, kalau sekarang

mayoritas remaja sudah memiliki teman spesial yang disebut "pacar".

Lalu bagaimana pacaran dalam pandangan Islam???

Istilah pacaran sebenarnya tidak dikenal dalam Islam. Untuk istilah

hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan pranikah, Islam

mengenalkan istilah "khitbah (meminang". Ketika seorang laki-laki

menyukai seorang perempuan, maka ia harus mengkhitbahnya dengan

maksud akan menikahinya pada waktu dekat. Selama masa khitbah,

keduanya harus menjaga agar jangan sampai melanggar aturan-aturan

yang telah ditetapkan oleh Islam, seperti berduaan, memperbincangkan

aurat, menyentuh, mencium, memandang dengan nafsu, dan melakukan

selayaknya suami istri.

Ada perbedaan yang mencolok antara pacaran dengan khitbah. Pacaran

tidak berkaitan dengan perencanaan pernikahan, sedangkan khitbah

merupakan tahapan untuk menuju pernikahan. Persamaan keduanya

merupakan hubungan percintaan antara dua insan berlainan jenis yang

tidak dalam ikatan perkawinan.

Dari sisi persamaannya, sebenarnya hampir tidak ada perbedaan antara

pacaran dan khitbah. Keduanya akan terkait dengan bagaimana orang

mempraktikkannya. Jika selama masa khitbah, pergaulan antara laki-

laki dan perempuan melanggar batas-batas yang telah ditentukan

Islam, maka itu pun haram. Demikian juga pacaran, jika orang dalam

berpacarannya melakukan hal-hal yang dilarang oleh Islam, maka hal

itu haram.

Jika seseorang menyatakan cinta pada lawan jenisnya yang tidak

dimaksudkan untuk menikahinya saat itu atau dalam waktu dekat,

apakah hukumnya haram? Tentu tidak, karena rasa cinta adalah fitrah

yang diberikan allah, sebagaimana dalam firman-Nya berikut:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan

untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung

dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa

kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar

terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Rum: 21)

Allah telah menjadikan rasa cinta dalam diri manusia baik pada laki-

laki maupun perempuan. Dengan adanya rasa cinta, manusia bisa hidup

berpasang-pasangan. Adanya pernikahan tentu harus didahului rasa

cinta. Seandainya tidak ada cinta, pasti tidak ada orang yang mau

membangun rumah tangga. Seperti halnya hewan, mereka memiliki

instink seksualitas tetapi tidak memiliki rasa cinta, sehingga

setiap kali bisa berganti pasangan. Hewan tidak membangun rumah

tangga.

Menyatakan cinta sebagai kejujuran hati tidak bertentangan dengan

syariat Islam. Karena tidak ada satu pun ayat atau hadis yang

secara eksplisit atau implisit melarangnya. Islam hanya memberikan

batasan-batasan antara yang boleh dan yang tidak boleh dalam

hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri.

Di antara batasan-batasan tersebut ialah:

1. Tidak melakukan perbuatan yang dapat mengarahkan kepada zina

Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu mendekati zina:

sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu

jalan yang buruk." (QS. Al-Isra: 32) Maksud ayat ini, janganlah kamu

melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa menjerumuskan kamu pada

perbuatan zina. Di antara perbuatan tersebut seperti berdua-duaan

dengan lawan jenis ditempat yang sepi, bersentuhan termasuk

bergandengan tangan, berciuman, dan lain sebagainya.

2. Tidak menyentuh perempuan yang bukan mahramnya

Rasulullah SAW bersabda, "Lebih baik memegang besi yang panas

daripada memegang atau meraba perempuan yang bukan istrinya (kalau

ia tahu akan berat siksaannya). "

3. Tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya

Dilarang laki dan perempuan yang bukan mahramnya untuk berdua-duan.

Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir,

maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan

yang tidak mahramnya, karena ketiganya adalah setan." (HR. Ahmad)

4. Harus menjaga mata atau pandangan

Sebab mata kuncinya hati. Dan pandangan itu pengutus fitnah yang

sering membawa kepada perbuatan zina. Oleh karena itu Allah

berfirman, "Katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah mereka

memalingkan pandangan (dari yang haram) dan menjaga kehormatan

mereka.....Dan katakanlah kepada kaum wanita hendaklah mereka

meredupkan mata mereka dari yang haram dan menjaga kehormatan

mereka..." (QS. An-Nur: 30-31)

Yang dimaksudkan menundukkan pandangan yaitu menjaga pandangan,

tidak melepaskan pandangan begitu saja apalagi memandangi lawan

jenis penuh dengan gelora nafsu.

5. Menutup aurat

Diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurat dan dilarang

memakai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk

suaminya. Dalam hadis dikatakan bahwa wanita yang keluar rumah

dengan berpakaian yang mempertontonkan lekuk tubuh, memakai minyak

wangi yang baunya semerbak, memakai "make up" dan sebagainya setiap

langkahnya dikutuk oleh para Malaikat, dan setiap laki-laki yang

memandangnya sama dengan berzina dengannya. Di hari kiamat nanti

perempuan seperti itu tidak akan mencium baunya surga (apa lagi

masuk surga)

Selagi batasan di atas tidak dilanggar, maka pacaran hukumnya boleh.

Tetapi persoalannya mungkinkah pacaran tanpa berpandang-pandanga n,

berpegangan, bercanda ria, berciuman, dan lain sebagainya. Kalau

mungkin silakan berpacaran, tetapi kalau tidak mungkin maka jangan

sekali-kali berpacaran karena azab yang pedih siap menanti Anda.

DALIL-DALIL TENTANG SABAR

"Ya, (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (Ali Imran: 125-126).

"Dan jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu." (Ali Imran:120)

"Dan jika kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat kami." (As-Sajdah:24)

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Az-Zumar:10)

"Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Ali Imran:146)

"Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal:46)

"Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya." (Al-Furqan:75)

"Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang." (Al-Mukminun:111)

"Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), 'Salamun 'alaykum bima shabartum' (semoga keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd:23-24)

"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Rabbnya." (Al-Ankabut:58-59)

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (AliImran:200).

"Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka." (Al-Qashash:54)

"Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (Asy-Syura:43)

"Dan orang-orang yang sabar karena mengharapkan wajah Rabbnya." (Ar-Ra'd:22)

" Bahwasanya orang-orang dari kalangan Anshar meminta (harta) kepada Rasulullah. Beliau pun memberikan kepada mereka. Kemudian mereka meminta lagi, beliaupun memberikan kepada mereka. Kemudian mereka minta lagi, maka beliaupun memberikan kepada mereka. Kemudian mereka meminta lagi, maka beliaupun memberikannya, sampai habis hartayang ada di sisinya. Beliau bersabda, "Harta apapun yang ada di sisiku, maka saya tidak akan menyimpannya dari kalian. Barangsiapa yang bersifat menahan diri, niscaya Allah akan mencukupkannya, dan barangsiapa yang merasa cukup, niscaya Allah akan mengkayakannya, dan barangsiapa yang berusaha sabar, niscaya Allah memberikan kesabaran kepadanya. Tidak ada seorangpun yang diberikan pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada sabar. (Diriwayatkan pula oleh Muslim 1053, Abu Daud 1644, at Tirmidzi 2025, an-Nasa'i 5/95...)

IKHLAS DAN MEMPERBARUI NIAT

I. Pengertian Niat

Niat (secara umum) berarti suara / getaran terhadap sesuatu yang dihadapi sesuai dengan keinginan untuk mendapatkan keuntungan atau menghindarkan kerugian.

Niat (pengertian secara syar’i) adalah keinginan untuk melakukan amal perbuatan karena mengharapka ridho Allah.

II. Dalil – dalil tentang ikhlas

- Surah Al-Bayyinah ayat 5 (QS. 95 : 5)

Artinya :

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

[1595]Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

- Surah Az-Zumar ayat 11 (QS. 39 : 11)

Artinya :

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.

III. Kedudukan

1. Niat menentukan diterima atau tidaknya amal seseorang.

2. Niat akan menentukan balasan yang Allah berikan kepada seseorang.

3. Untuk membedakan antara ibadah dengan bukan bukan ibadah.

4. Untuk membedakan satu ibadah dengan ibadah lainnya.

IV. Urgensi memperbaharui niat

Yang dapat menyebabkan niat bergeser antara lain :

1. Keinginan berhenti dari suatu amal perbuatan

2. Bergeser dari keinginan semula karena pengaruh bermacam – macam kebutuhan

3. Munculnya keragu – raguan terhadap suatu amal perbuatan

V. Cara untuk mencapai keikhlasan

1. Memahami bahwa keikhlasan itu penting.

2. Menumbuhkan rasa takut kepada Allah SWT.

Surah Al-Mulk ayat 12 (QS. 67 : 12)

Artinya :

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.

Surah Ar-Rad ayat 21 (QS. 13 : 21)

Artinya :

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.

3. Tidak takut kepada siapapun kecuali Allah.

Surah Al-Baqarah ayat 150 (QS. 2 : 5)

Artinya :

Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.

4. Berjuang sekuat – kuatnya demi ridho Allah

Surah Al-Maaidah ayat 48 ( QS. 5 : 48 )

Artinya :

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[421] terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu[422], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

[421]. Maksudnya: Al Quran adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya.

[422]. Maksudnya: umat Nabi Muhammad s.a.w. dan umat-umat yang sebelumnya.

5. Mengharapkan balasan hanya dari Allah

Surah An-Nahl ayat 97 (QS. 16 : 97)

Artinya :

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

[839]. Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

6. Menguatkan hati nurani

7. Memahami bahwa kehidupan dunia ini adalah sementara

Surah Al-Anbiyaa’ ayat 34-35 (QS. 21 : 34-35)

Artinya :

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

Kamis, 13 Agustus 2009

CP

Ni pak CPnya Download